Antara Hak Anak Dan Kewajiban Ibu*

Salamah Ummu Ismail

 

Anak, sebagai darah daging kedua orang tua, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ibunya. Anak mempunyai hak-hak yang merupakan kewajiban orang tuanya, terutama ibunya, untuk menunaikan hak-hak tersebut. Jadi bukan hanya anak yang mempunyai kewajiban atas orang tua, tetapi orang tua pun mempunyai kewajiban atas anak. Secara ringkas kewajiban orang tua atas anaknya adalah sebagai berikut:

 

Menyusui

Wajib atas seorang ibu menyusui anaknya yang masih kecil, sebagaimana firman Allah:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS AI baqarah: 233)

 

Allah berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orangtuanya. lbunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkanya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampan menyapihnya adalah

tiga puluh bulan.
(QS Al Ahqaf 15).

 

Al ‘Allamah Siddiq Hasan Khan berkata: “Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. Maksudnya adalah jumlah waktu selama itu dihitung dari mulai hamil sampai disapih.” (1)

 

Mendidiknya

Mendidik anak dengan baik merupakan salah satu sifat seorang ibu muslimah. Dia senantiasa mendidik anak-anaknya dengan akhlak yang baik, yaitu akhlak Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia.

 

Mendidik anak bukanlah (sekedar) kemurahan hati seorang ibu kepada anak-anaknya, akan tetapi merupakan kewajiban dan fitrah yang diberikan Allah kepada seorang ibu.

 

Mendidik anak pun tidak terbatas dalam satu perkara saja tanpa perkara lainnya, seperti (misalnya) mencucikan pakaiannya atau membersihkan badannya saja. Bahkan mendidik anak itu mencakup perkara yang luas, mengingat anak merupakan generasi penerus yang akan menggantikan kita yang diharapkan menjadi generasi tangguh yang akan memenuhi bumi ini dengan kekuatan, hikmah, ilmu, kemuliaan dan kejayaan.

 

Berikut beberapa perkara yang wajib diperhatikan oleh ibu dalam mendidik anak-anaknya.

Menanamkan Aqidah Yang Bersih

Menanamkan aqidah yang bersih, yang bersumber dari Kitab dan Sunnah yang shahih. Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ (19)

Maka ketahuilah bahwa sesugguhnya tidak ada sesembahan yang haq melainkanAllah. (QS Muhammad: 19)

عن ابن عباس قال : كنت خلفت رسول الله صلى الله عليه و سلم يوما فقال يا غلام إني أعلمك كلمات
احفظ الله يحفظك احفظ الله تجده تجاهك إذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك ولو اجتمعواعلى أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك رفعت الأقلام وجفت الصحف

 

Dari Abul Abbas Abdullah bln Abbas, dia berkata: “Pada suatu hari aku membonceng di belakang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, kemudian beliau berkata, ‘Wahai anak, Sesungguhnya aku mengajarimu beberapa kalimat, yaitu: jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau mendapatiNya di hadpanmu. Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau mohon pertotongan, maka mohonlah pertotongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu satu manfaat, niscaya mereka tidak akan dapat memberimu manfaat, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk memberimu satu bahaya, niscaya mereka tidak akan bisa membahayakanmu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan tinta telah kering.” 2

 

Dan dalam riwayat lain (Beliau shallallahu’alaihi wa sallam berkata)

احفظ الله تجده أمامك تعرف إليه في الرخاء يعرفك في الشدة وإذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله قد جف القلم بما هو كائن فلو ان الخلق كلهم جميعا أرادوا ان ينفعوك بشيء لم يكتبه الله عليك لم يقدروا عليه وان أرادوا أن يضروك بشيء لم يكتبه الله عليك لم يقدروا عليه واعلم ان في الصبر على ما تكره خيرا كثيرا وان النصر مع الصبر وان الفرج مع الكرب وان مع العسر يسرا

 

“Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatiNya di hadapanmu. Kenalilah Allah ketika kamu senang, niscaya Dia akan mengenalimu saat kesulitan. Ketahuilah, apaapa yang (ditakdirkan) luput darimu,(maka) tidak akan menimpamu. Dan apa-apa yang (ditakdirkan) menimpamu, ia tidak akan luput darimu. Ketahuilah, bahwa pertolongan ada bersama kesabaran, kelapangan ada bersama kesempitan, dan bersama kesusahan ada kemudahan.” 3

 

Seorang anak terlahir di atas fitrah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam maka sesuatu yang sedikit saja akan berpengaruh padanya. Dan wanita muslimah adalah orang yang bersegera menanamkan agama yang mudah ini, serta menanamkan kecintaan tehadap agama ini kepada anak-anaknya.

Mengajari Anak Shalat

Mengajarkan anak-anak shalat yaitu dalam hal-hal yang utamanya, wajib-wajibnya, waktunya, cara berwudhu dan dengan shalat dihadapan mereka.

 

Demikian pula dengan pergi bersama mereka ke masjid, berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan hadits Sabrah4

علموا الصبي الصلاة بن سبع سنين واضربوه عليها

Perintahkanlah anak untuk shalat apabila mereka telah berumur tujuh tahun. Dan jika mereka telah berumur sepuluh tahun (tetapi tidak shalat), maka pukullah mereka. 5

 

Hendaknya para ibu mengajarkan kepada mereka, bahwa shalat bukan hanya sekedar gerakan atau rutinitas seorang hamba kepada Rabbnya. Akan tetapi, shalat merupakan hubungan yang dalam dan kuat antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Maka peringatkanlah mereka dengan sungguh-sungguh, supaya tidak meninggalkan shalat. Berilah mereka ancaman bila meninggalkan perbuatan tersebut.

 

Suruhlah mereka untuk senantiasa bersegera menunaikan shalat pada awal waktu. Allah di berfirman

 

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا (59) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا (60)

Maka datanglah sesudah mereka pengganti yang jelek yang menyla-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat serra mengerjakan amal shalih. (QS Maryam: 59-60).

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحق الإسلام وحسابهم على الله )

 

Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi, bahwa tidak ada sesembahan yang hak, kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan sampai mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat Apabila mereka melakukan itu, maka terjagalah dariku darah-darah mereka dan harta-harta mereka, kecuali merupakan hak Islam; dan perhitungan mereka atas Allah. 6

 

Ibnu Hazm berkata, “Barangsiapa mengakhirkan shalat dan waktunya, maka dia itu hina” 7

Menanamkan Kecintaan Kepada Allah dan RasuINya shallallahu’alaihi wa sallam, dan Mendahulukan Keduanya

 

Dari Anas dia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

فوالذي نفسي بيده لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده

 

“Tidak sempurna imam seseorang diantara kalian sampai aku menjadi orang yang lebih dicintainya daripada bapaknya, anaknya dan seluruh manusia.” 8

 

Dengan menanamkan kecintaan kepada Allah dan RasuINya shallallahu’alaihi wa sallam di hati anak-anak akan mengantarkan mereka menyambut seruan Allah dan RasuINya. Dan ini menjadi motivasi dasar untuk seluruh yang mengikutinya.

Mengajarkan Al Qur’an dan Menyuruh Anak-Anak Menghafalkan

 

Ini merupakan masalah besar yang hanya akan didapatkan oleh orang yang secara sungguh-sungguh berusaha menghafal dan mengamalkannya. Hendaklah ibu memulainya dengan menyuruh menghafal surat Al Fatihah dan surat-surat pendek. Demikian pula hendaklah kita menyuruh mereka menghafal at tahiwat untuk shalat.

 

HadIts-hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah menunjukkan keutamaan itu semua. Diantaranya yang diriwayatkan oleh Utsman bin Affan dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam beliau bersabda:

خيركم من تعلم القرآن وعلمه

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” 9

 

Para ibu pada masa kejayaan Islam, benar-benar memotivasi anak-anaknya untuk mendapatkan kebaikan, terlebih lagi dari Al Qur’an, sebagaimana mereka mengusahakan kebaikan bagi jiwa anak-anaknya.

 

Membuat Anak-Anak Cinta Kepada Sunnah Serta Menyuruh Mereka Menjaganya

 

Allah berfirman:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا (80)

Barangsiapa mentaati Rasul itu, maka sesunguhnya dia telah mentaati Allah.(QS An Nisa: 80).

 

Allah berfirman:

مَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

 

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (QS AI Hasyr:7).

 

Nabi bersabda, dari hadits Irbadh bin Sariyah yang artinya:

وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما بعد صلاة الغداة موعظة بليغة ذرفت منها العيون ووجلت منها القلوب فقال رجل إن هذه موعظة مودع فماذا تعهد إلينا يا رسول الله قال أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبد حبشي فإنه من يعش منكم يرى اختلافا كثيرا وإياكم ومحدثات الأمور فإنها ضلالة فمن أدرك ذلك منكم فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ

“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah, mend-gar dan taat, meskipun yang memerintahkan kalian adalah budak dari Habasyah. Karena sesungguhnya, barangsiapa diantara kalian hidup setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Berpegang teguhlah kalian dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat pentunjuk. Peganglah ia erat-erat, dan gigitlah ta dengan gerahammu.” 10

 

Menanamkan Kepada Anak Agar Benci Kepada Bid’ah

 

Agama Islam adalah agama yang sempurna. Allah berfirman, yang artinya:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (115)

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dia mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan a ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.
(QS An Nisa :115)

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, dari hadits Abdullah bin Mas’ud:

كل محدثات بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Setiap perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

 

Jadi setiap bid’ah itu tertolak, sebagaimana disebutkan dalam hadits. Adapun pembagian bid’ah menjadi dua, yaitu: bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka sebenarnya yang dimaksudkan ialah bid’ah (perkara baru) secara bahasa saja, bukan secara syar’iyyah.

Membuat Anak-Anak Cinta Kepada Ilmu Syar’i dan Bersabar

Dalam Meraihnya

 

Ilmu syar’i merupakan ilmu yang paling mulia. Allah telah memuji ilmu dan ulama lebih dari satu ayat dalam Al Qur’an. Allah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambaNya hanyalah ulama.
(QS Fathir: 28).

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا (114)

Dan katakanlah: ” Ya Rabb, tambahkanlah kepadaku ilmu”. (QS Thaha:114).

 

Dari Zar bin Hubasyi, dia berkata, “Aku mendatangi Sofwan bin ‘Assal Al Muradi, lalu dia berkata, “Untuk tujuan apa engkau datang kemari?” Aku menjawab, “Karena mengharapkan ilmu”. Dia berkata, “Sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi penuntut iImu, karena ridha dengan apa yang mereka cari.” 11

 

Belajar ketika masih kecil lebih baik daripada belajar ketika sudah dewasa, sebagaimana dalam sebuah sya’ir:

 

Belajar sewaktu kecil

bagaikan melukis di atas baru

 

Pada masa permulaan Islam para ibu memotivasi anaknya untuk menuntut ilmu (syar’i). Bahkan ada yang rela bekerja agar si anak bisa belajar. Lihatlah, bagaimana manusia memuji Sufyan Ats Tsauri 12 karena keluasan ilmu yang dimilikinya.

 

Al Auza’i berkata tentangnya; “Tidak ada orang yang padanya orang awam berkumpul dengan ridha dan lapang dada, kecuali satu orang di Kufah yaitu Sufyan”

 

Sufyan tidaklah mencapai apa yang menjadi cita-citanya, kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian pertolongan ibunya yang shalihah.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad dari Waki’, dia berkata, “Ummu Sufyan berkata kepada Sufyan, ‘Wahai, anakku. Tuntutlah iImu dan aku akan cukupimu dengan alat pemintalku’.” 13

 

Alangkah besarnya tokoh-tokoh yang keluar dari madrasah ibu.

Ibu adalah madrasah.

Apabila engkau mempersiapkannya,

berarti engkau mempersiapkan generasi yang kuat akarnya

Ibu adalah taman.

Jika engkua merawatnya,

dia akan hidup dengan elok,

tumbuh daunnya beraneka rupa

Ibu adalah guru pertamanya para guru

Kemuliaanya terpancar menyebar sepanjang cakrawala

Mengajarkan Kepada Anak Untuk Meminta Izin

 

Ini termasuk adab mulia yang penting diajarkan dan dibiasakan oleh seorang ibu muslimah kepada anak-anaknya, khususnya jika anak hampir baligh. Islam telah memberikan batasan dan rambu-rambu tentang hal ini dengan jelas. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (58) وَإِذَا بَلَغَ الْأَطْفَالُ مِنْكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوا كَمَا اسْتَأْذَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (59)

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita)

yang kamu miliki dan orang-orang yang belum baligh diantara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu sebelum shalat shubuh, ketika kamu sedang menanggalkan pakaian (luarmu) di tengah hari dan sesudah shalat isya’. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian yang lain. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana. Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka minta izin, seperti orang-orang sebelum mereka minta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatNya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS An Nur: 58-59).

 

Ayat-ayat tersebut menjelaskan waktu-waktu yang tidak diperbolehkan bagi anak-anak yang belum baligh untuk masuk, kecuali setelah mendapat izin. Adapun selain tiga waktu tersebut, maka tidak berdosa atas mereka masuk tanpa izin. Imam Ibnu Katsir menjelaskan yang menjadi sebab perlunya meminta izin pada tiga waktu tersebut. Dia berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan orangorang beriman, agar para budak yang mereka miliki dan anakanak mereka yang belum baligh untuk meminta izin

kepada mereka dalam tiga waktu, yaitu:

 

1. Sebelum shalat fajar. Karena pada waktu itu manusia sedang tidur di tempat tidurnya.

2. Ketika menanggalkan pakaian pada siang hari, yaitu pada waktu qailulah (tidur siang), karena manusia seringkali sedang menanggalkan pakaiannya bersama istrinya pada waktu itu.

3. Setelah shalat Isya. Karena itu saat waktu tidur, maka diperintahkan kepada para budak dan anak-anak (yang belum baligh) untuk tidak masuk kepada ahli bait tanpa izin, karena dikhawatirkan ketika itu seorang suami sedang bersama istrinya atau sedang melakukan hal Iainnya.

 

Oleh karena itu Allah berfiman, yang artinya:

(Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak

pula atas mereka selain dari (tiga waktu) itu.

 

Maksudnya, apabila mereka masuk selain dari tiga waktu itu tanpa izin, maka tidak apa-apa atas kalian dan tidak pula atas mereka apabila mereka melihat sesuatu selain dari tiga waktu itu, karena telah diizinkan bagi mereka masuk tanpa izin, dan karena mereka banyak berinteraksi dengan kalian untuk melayani kalian atau yang lainnya.” 14

 

Adapun bagi anak-anak yang telah baligh, maka mereka harus mina izin setiap waktu apabila ingin masuk. Al Auza’i berkata dari Yahya bin Katsir,

“Apabila anak masih berumur empat tahun, maka dia meminta izin kepada kedua orang tuanya dalam tiga waktu. Apabila mereka telah baligh, maka dia harus minta izin setiap waktu. ” 15

 

Keharusan minta izin ini tidak hanya ketika akan masuk ke rumah orang lain saja, akan tetapi juga ketika masuk ke rumah yang hanya dihuni oleh ibu atau saudara perempuannya. Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Hudzaifah,”Apakah aku harus minta izin kepada ibuku?” Dia menjawab, “Jika engkau tidak minta izin kepadanya, engkau akan melihat apa yang engkau benci.” 16

 

Imam Al Bukhari meriwayatkan pula tentang keharusan seorang laki-laki minta izin kepada saudarinya:

‘Atha bertanya kepada lbnu Abbas tentang meminta izin kepada saudara perempuan, maka Ibnu Abbas berkata, ” Ya,” lalu aku ulangi lagi, “Dua saudariku itu berada dalam pemeliharaanku, aku yang menjamin dan menafkahi mereka, apakah aku harus izin?” Beliau menjawab, “Ya. Apakah engkau suka melihat saudarimu sedang telanjang?” Kemudian beliau membaca, Al-Qur’an surat An Nur ayat 58. Kemudian Atha’ berkata, “Mereka diperintahkan minta izin kecuali pada tiga waktu itu,”. Ibnu Abbas membaca, firman Allah yang artinya: Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang sebelum mereka minta izin. (QS An Nur:59). Ibnu Abbas berkata, “Minta izin hukumnya wajib.” Ibnu Juraij menambahkan, “Atas setiap manusia.” 17

Menanamkan Kejujuran

 

Jujur adalah sikap terpuji yang wajib kita tanamkan kepada anak-anak. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (119)

Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).
(QS At Taubah :119).

Ayat-ayat tentang hal ini sangat banyak. Demikian pula hadits telah berulang menyitir akhlak terpuji ini. Dari Ibnu Mas’ud dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam beliau bersabda:

إن الصدق يهدي إلى البر وإن البر يهدي إلى الجنة وإن الرجل ليصدق حتى يكون صديقا وإن الكذب يهدي إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار وإن الرجل ليكذب حتى يكتب عند الله كذابا

Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun kepada surga, dan sesungguhnya seseorang berkata jujur sehingga dia menjadi orang yang jujur. Dan sungguhnya kedustaan menunjukkan kepada kejahatan, sedangkan kejahatan mengantar kepada neraka, dan sesungguhnya seseorang berkata dusta hingga la tercatat di sisi Allah sebagai pendusta.18

 

Berkata jujur adalah kemuliaan bagi anak-anak kita. Dan tidak akan tersealisasi, kecuali dengan berkata jujur dalam segala urusan. Jika seseorang biasa berdusta, dia akan senantiasa dianggap pendusta di hadapan manusia meskipun dia berkata jujur.

Menanamkan Sifat Sabar

Allah berfirman, yang artinya:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ (10)

Sesungguhnya hanya orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa hisab.
(QS Az Zumar : 10).

Dan juga firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (153)

Hai orang-orang yang beriman mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS Al Baqarah: 153).

 

Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan dia berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman, sesunguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak terjadi, kecuali bagi orang yang beriman. Apabila dia diberi kesenangan, maka dia bersyukur, dan itu baik baginya. Dan apabila dia ditimpa kesusahan, maka dia bersabar, dan itupun baik baginya.” 19

Menyadarkan Kepada Anak Tentang Berharganya Waktu

Sesungguhnya menjaga waktu akan menanamkan sifat menepati janji pada waktunya. Demikian pula harus diperhatikan, agar menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya. Oleh karena itu Allah menganjurkan kita untuk menyusun jadwal kegiatan dan mengerjakannya pada waktu yang telah direncanakan. Dan waktu sangat terbatas. Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا (103)

Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS An Nisaa :103).

 

Ibnu Mas’ud pernah bertanya kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, “Amal apa yang paling dicintai oleh Allah? “Beliau menjawab, ‘Shalat pada awal waktunya….’ 20

 

Allah mengkhususkan masalah shalat, karena shalat dilakukan berulang lima kali sehari semalam. Apabila seseorang menjaga shalatnya dan melaksanakannya pada awal waktu, maka hal dapat menanamkan kedisiplinan dan pemanfaatan waktu. Dan agar menjadikan waktu sehat dan luangnya sebagai kesempatan untuk melakukan kebaikan, karena umur itu terbatas.

 

Ibnu Abbas berkata, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda

نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس الصحة والفراغ

Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengannya, yaitu kesehatan dan waktu luang. 21

Para salafush shalih dan orang-orang yang meniti jalan mereka adalah manusia yang paling ketat dan paling bersemangat dalam menjaga waktu, yakni dengan memanfaatkan dan memenuhinya dengan berbagai kebaikan dan hal-hal bermanfaat.

Menanamkan Sifat Pemberani

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (QS At Taubah:111).

 

Dan Abu Aufa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إن أبواب الجنة تحت ظلال السيوف

“Dan ketahuilah bahwa surga di bahah naungan pedang ” 22

 

Ibnu Hajar berkata, Al Qurtubi berkata,

“Sabda Rasulullah di atas termasuk ucapan yang indah, singkat tapi padat.Memiliki gaya bahasa nan indah, ringkas dan lafazhnya bagus. (Ucapan) ini memberi faidah anjuran untuk berjihad, dan mengabarkan pahalanya, serta anjuran menghadapi musuh yang menggunakan pedang, serta bersatu ketika perang, sehingga pedang menaungi orang-orang yang berperang ” 23

Ibnul Jauzi berkata, “Maksudnya adalah surga dapat diraih dengan jihad.”24

 

Pada periode awal Islam, para ibu menjadi penolong dan pendorong anak-anaknya agar memiliki sifat pemberani. Dalam sejarah terdapat contoh-contoh tentang hal itu. Sebutlah Abdullah bin Zubair bin Awwam. Ketika dia keluar untuk memerangi Hajjaj bin Yusuf, bersamanya tidak ada orang, kecuali sedikit orang. la mengadu kepada ibunya Asma tentang ketidak pedulian manusia dan sikap diam mereka terhadap Hajjaj sampai orang yang paling dekat denganya sekalipun. Abdullah menanyakan pendapat ibunya. Lalu apakah yang dikatakan oleh wanita yang berjiwa besar ini? Apakah ia berkata kepada putranya, “Tinggalkanlah urusan ini” karena ia khawatir terhadap keselamatan putranya yang merupakan darah dagingnya? Tidak, demi Allah. Bahkan ia memompakan keberanian dan kesabaran sampal ia matisyahid.

 

Dengan keberanian dan jihad semacam inilah akan tegak berdiri Daulah Islamiyah yang diharapkan dengan izin Allah.

 

Bersikap Adil Diantara Anak-Anak

Dari Nu’man bin Basyir, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

اعدلوا بين أبنائكم اعدلوا بين أبنائكم اعدلوا بين أبنائكم

Bersikap adillah diantara anak-anakmu, adillah diantara anak-anakmu, adillah diantara anak-anakmu 25

 

Pada bagian akhir dari pembahasan ini, ingin aku sitirkan firman Allah melalui lisan Luqman Al Hakim kepada anaknya sebagai nasihat atas anak.

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (17) وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18) وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (19)

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengejakan kebaikan

dan cegahlah (mereka) dari perbuatan mungkar dan bersabarlah terhadap apa-apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesunguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (QS Luqman:7-19).

 

Saudariku muslimah, sesungguhnya anak-anak kita adalah amanah yang dititipkan Allah kepada kita. Allah akan menanyakan, apakah kita akan menjaganya atau menyianyiakannya. Maka wajib atas kita untuk menjaga amanah ini. Dengan keyakinan, kita mendidik generasi muslim, kita persiapkan mereka agar menjadi generasi kuat untuk menghadapi orang-orang yang menyimpangkan Al Kitab dan Assunnah. Wallahu walyyut taufiq.


Footnote

*Diangkat dari buku berjudul Wajibatul Mar’atil Muslimah Ala Dhau’il Kitab Was Sunnah Hlm.103 – 127, karya Ummu ‘Amr binti Ibrahim Badawi. Di salin ulang dari majalah As-Sunnah Edisin 11/VII/1424H/2004M hal. 56 – 61.

1Husnul Uswah, hlm. 215.

2HR. Tirmidzi no 2416 dan ia berkata, “Hadits hasan shahih.”

3HR. Ahmad dalam Musnadnya no 2804.

4Sabrah, yakni Ibnu Abdil Aziz bin Rabi’ bin Sabrah Al-Juhani.

5Dikeluarkan oleh Abu Dawud, 494; Tirmidzi, 407; dan dia berkata, “Hasan shahih.” Ad Darimi, I/333; Ibnul Jarud, 147; Ibnu Khuzaimah, 1002; Hakim, I/201 dan dia berkata, “Shahih atas syarat Muslim dan disepakati oleh Adz Dzahabi.” Berkata Albani dalam Al Irwa’ I/267, “Dan dalam apa-apa yang dikatakan keduanya perlu diteliti, karena Muslim hanya mengeluarkan satu hadits saja dali Abdul Malli ini dalam hal mut’ah sebagai pendukung, sebagaimana yang disebutkan oleh Al Hafidz dan lainnya. Hadits ini sanad-sanadnya dha’if, akan tetapi dia mempunyai syahid yang menguatkannya kepada derajat shahih dari hadits Ibnu Amr.”

6HR. Bukhari, 25 dan Muslim, I/200 Nawawi.

7Al Muhalla, 2/239

8HR. Bukhari, 14; Muslim, 2/15; Nawawi; Ibnu Majah, 67; Ad Darimi, 2/307; Ahmad, 3/77; Abdurrazaq, 2032; Ibnu Hazm dalam Al Muhalla, 2/239.

9HR. Bukhari, 4739; Abu Dawud, 1452; At Tirmidzi, 2907, 2908; Ibnu Majah, 211, 212; Ahmad, 405,412, 413, 500; Ath Thayalisi, 1880; dan Ad Darimi, 2/437.

10HR. Abu Dawud, 4607; At Tirmidzi, 2676 dan dia barkata, “Hasan shahih_; Ibnu Majah, 42; Ad Darimi, 1/44, 45; Ahmad, 4/126, 127; Hakim, 1/97; Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ul Ilmi,92/17, 172.

11HR. Tirmidzi, 96/3535; Nasa’i, 1/83; Ibnu Majah, 284; Ad Darimi, 1/101; Ahmad, 4/239, 240; IbnuKhuzaimah, 17/193, 196; Asy Sya_’i dalam Al Umm, 1/34, 35; Hakim, 1/100; Ibnu Abdil Bar,dalam Al Jami’ 91/32; Ibnu Hazm, dalam Al Muhalla, 2/830; Ibnul Jarud, 94; Humaidi,881.

12Beliau adalah salah seorang Imam dari enam madzhab. Beliau adalah Amirul Mu’minin dalam hadits. Syu’bah, Ibnu Mubarak, Abu ‘Ashim, Ibnu Mu’ayyan dan lebih dari satu ulama’ lainnya, berkata, “Sufyan adalah Amirul Mu’minin dalam hadits.” Ibnul Mubarak berkata, “Aku menulis dari seribu seratus syaikh. Tidaklah aku menulis yang lebih utama dari Sufyan.” (Lihat At Tahdzib, 4/112,113). Dikatakan pula bahwa Sufyan adalah penduduk dunia yang paling faqih (Siyar AlaminNubala).

13‘Audatul Hijab, karya Muhammad Ismail, 2/143. Dinukil dari Al Imam Sufyan Ats Tsauri,

karya Muhammad Abul Fath Al Bayanuni.

14Tafsir Ibnu Katsir, 3/303, 304.

15Tafsir Ibnu Katsir, 3/303, 304.

16Al Adabul Mufrad, 1060.

17Al Adabul Mufrad, 1063

18HR. Bukhari, 5743; Muslim, 16/60; Nawawi; Abu Dawud, 4989; Tirmidzi, 1972, dan dia berkata, “Hasan shahih.”

19HR. Muslim 7692

20HR. Muslim, 18/125; Nawawi.

21HR. Bukhari, 527; Muslim, 2/73; Nawawi; Tirmidzi, 173, dan dia berkata, “Hasan shahih.”; Nasa’i,1/292; Ad Darimi, 1/278; Ahmad, 1/409, 410, 439; Humaidi, 103; Thabrani dalam Ash Shaghir,446; Al Baihaqi dalam Al I’tiqad, hlm. 42.

22HR. Bukhari, 2818, 2833, 3966; Muslim, 1742; Abu Dawud, 2631; Tirmidzi, 1659.

23Fathul Bari, 6/33.

24Fathul Bari, 6/33.

25HR. Abu Dawud, 93544; Nasa’i, 6/262; Ahmad, 4/275, 278, 375.

22 Juni 2004

Didownload dari: http://www.vbaitullah.or.id

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Januari 2011
    S S R K J S M
    « Des   Feb »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • Klik tertinggi

    • Tidak ada
%d blogger menyukai ini: